CNN Indonesia: Keindahan Bahasa Isyarat bagi Santi

Jakarta, CNN Indonesia — Sasanti T. Sugiarto sejak kecil telah menyukai bahasa. Itu tak lepas dari lingkungan keluarganya yang memang menyukai berbagai bahasa. Namun satu bahasa yang disukai Santi adalah bahasa isyarat, bahasa yang menurutnya punya keindahan tersendiri.

Pada 2008, dia akhirnya benar-benar mempelajari bagaimana caranya berbicara dalam bahasa isyarat. Seiring berjalannya waktu, dia akhirnya berprofesi sebagai penerjemah bahasa isyarat.

Salah satu kesuksesan dan kesenangan bagi Santi adalah saat mereka yang memiliki kekurangan tak bisa mendengar bisa mengerti apa yang dia sampaikan dengan bahasa isyarat.

Sumber artikel: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180118173732-391-269954/keindahan-bahasa-isyarat-bagi-santi
Oleh: Aulia Bintang Pratama, CNN Indonesia | Kamis, 18/01/2018 19:36 WIB

,

Kompas.tv: Ini Sosok Penerjemah Bahasa Isyarat di Debat Pilkada

Ini Sosok Penerjemah Bahasa Isyarat di Debat Pilkada

Sapa Indonesia akan berbincang dengan penerjemah bahasa isyarat dalam debat pilkada DKI Jakarta, Pingkan C R Warouw, Sasanti Soegiarto, dan Edik Widodo.

Sumber artikel: https://www.kompas.tv/content/article/2741/video/sapa-indonesia/ini-sosok-penerjemah-bahasa-isyarat-di-debat-pilkada
Kompas.tv | SELASA, 18 APRIL 2017 22.14 WIB

IDN Times: Jadi Guyonan Hingga Salah Kiasan, Suka Duka Penerjemah Bahasa Isyarat dalam Debat

Demi suara tuna rungu yang sangat berpengaruh

Dalam setiap gelaran debat Pilkada DKI yang diselenggarakan oleh KPU Jakarta, pemirsa akan menemukan sebuah kotak kecil di sisi kanan bawah televisi. Kotak tersebut memperlihatkan seorang penerjemah bahasa isyarat.

Bagi penonton setia televisi secara umum, tak hanya di Indonesia sebenarnya, kehadiran penerjemah bahasa isyarat masih cukup asing. Namun, bagi saudara-saudara kita yang tuna rungu, keberadaan mereka kala debat berlangsung sangat membantu.

Suara penyandang tuna rungu sangat penting dalam Pilkada.

“KPU dituntut untuk memberikan akses yang sama, lho. Satu suara saja berpengaruh,” kata Edik Widodo kepada Kompas. Edik adalah salah satu dari tiga penerjemah yang bertugas pada debat Pilkada putaran kedua yang dilaksanakan pada Rabu (13/4) di Hotel Bidakara, Jakarta.

Dua rekan Edik adalah Sasanti Soegiarto dan Pinky. Mereka berasal dari Perkumpulan Penerjemah Bahasa Isyarat Indonesia atau Indonesian Sign Language Interpreters (Inasli) yang ditugaskan oleh KPU DKI Jakarta untuk membantu warga Jakarta yang tuna rungu agar memahami jalannya debat.

Menurut Edik, satu suara dari penyandang tuna rungu itu sangat berpengaruh dalam penentuan hasil Pilkada. Ia memberi contoh saat Pilkada Banten 2017 di mana pasangan Rano Karno-Embay Mulya Syarief kalah 1 persen saja dari pasangan Wahidin Halim-Andika Hazrumy. Bila di Banten angka itu signifikan dalam menentukan siapa menang dan siapa kalah, di Jakarta tentu lebih signifikan lagi.

Para penerjemah bahasa isyarat rela dijadikan bahan guyonan demi membantu saudara-saudara yang tuna rungu.

Rupanya, dalam menerjemahkan tidak cukup hanya dengan menggunakan gerakan tangan. Para penerjemah juga diwajibkan untuk menunjukkan mimik wajah yang ekspresif sesuai dengan apa yang mereka terjemahkan.

Karena inilah tak jarang penonton awam menjadikan mereka bahan guyonan. Pinky mengaku bahwa mereka tak peduli dengan itu sebab visual sangat penting bagi penyandang tuna rungu. Hal senada diungkapkan oleh Edik. Menurutnya, itu adalah konsekuensi pekerjaan.

Dari pada kami jaim tapi mereka enggak mengerti. Orang lain bilang kami konyol, gak apa-apa, itu harga yang harus kami bayar, yang penting pesannya sampai.

Bagi para penerjemah, itu dilakukan karena warga penyandang tuna rungu pantas diperlakukan sama. “Bayar pajak PBB, motor, sama-sama tidak didiskon. Makan pun sama-sama kena pajak. Maka dalam hal pelayanan harus sama juga. Kesetaraan hak ya seperti itu,” lanjut Edik.

Tugas para penerjemah bahasa isyarat memang tak mudah dan patut diapresiasi.

Ketiga penerjemah bahasa isyarat itu mengaku ada beberapa kesulitan dalam menjalankan tugas. Misalnya, terkait akronim yang sering digunakan para kandidat. Pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno tercatat berulang kali mengeluarkan singkatan seperti OK-OCE, OK-OCE Mart, OK-OCare, serta OK-OTrip.

Kemudian, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat juga memakai singkatan RPTRA, BPHTB, dan KUA. “Waktu Pak Djarot bilang KUA itu, aku pikir KUA tempat menikah,” kata Pinky. Tantangan berikutnya adalah soal gaya bicara.

Menurut ketiganya, Ahok berbicara dalam tempo yang sangat cepat. Sedangkan Anies suka memakai kata-kata kiasan. Walau begitu, mereka tetap wajib menunjukkan terjemahan yang sesuai dengan apa yang dimaksud oleh masing-masing kandidat. Faktor-faktor tersebut membuat para penerjemah bahasa isyarat patut mendapat apresiasi.

Sumber artikel: https://news.idntimes.com/indonesia/rosa-folia/jadi-guyonan-hingga-salah-kiasan-suka-duka-penerjemah-bahasa-isyarat-dalam-debat/full
Published by Rosa Folia 13 April 2017

Kompas.com: Penerjemah Bahasa Isyarat dalam Debat Pilkada DKI, Kerja Total Demi Suara Penyandang Tuna Rungu

JAKARTA, KOMPAS.com – Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta tetap mengakomodasi kebutuhan warga penyandang tuna rungu atau gangguan pendengaran dengan menyediakan penerjemah bahasa isyarat dalam acara debat calon gubernur-calon wakil gubernur DKI Jakarta, Rabu (12/4/2017) malam.

Perkumpulan Penerjemah Bahasa Isyarat Indonesia atau Indonesian Sign Language Interpreters (Inasli) ditunjuk untuk menyediakan penerjemah-penerjemah itu. Sasanti Soegiarto, Edik Widodo, dan Pinky, kemudian dipilih menjadi penerjemah ucapan cagub-cawagub dalam debat ke bahasa isyarat.

“KPU dituntut untuk memberikan akses yang sama lho. Satu suara saja berpengaruh lho,” ujar Edik, kepada Kompas.com, di Hotel Bidakara, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (13/4/2017).

Edik mencontohkan pada Pilkada Banten 2017. Pasangan Rano Karno-Embay Mulya Syarief kalah perolehan suara hanya sekitar 1 persen dari pasangan Wahidin Halim-Andika Hazrumy.

“Itu di Banten, apalagi di Jakarta 0,5 persen suara saja berpengaruh,” ujar Edik.

Selain itu, penyandang disabilitas seperti tuna rungu juga menjalankan kewajiban yang sama seperti warga lainnya. Edik mengatakan mereka sama-sama membayar pajak demi pembangunan di Jakarta.

Sudah seharusnya, kata Edik, mereka mendapatkan hak yang sama dengan warga Jakarta lainnya.

“Bayar pajak PBB, motor, sama-sama tidak didiskon. Makan pun sama-sama kena pajak. Maka dalam hal pelayanan harus sama juga. Kesetaraan hak ya seperti itu,” ujar Edik.

Selama debat berlangsung, Edik menggunakan ekspresi-ekspresi yang mencolok saat menerjemahkan ucapan cagub-cawagub ke dalam bahasa isyarat. Dia mengatakan hal itu dilakukan agar para tuna rungu mengerti maksud yang disampaikan dua pasangan calon tersebut.

Edik tidak peduli jika aksinya menjadi bahan olokan.

“Dari pada kami jaim tapi mereka enggak mengerti. Orang lain bilang kami konyol, enggak apa-apa itu harga yang harus kami bayar, yang penting pesannya sampai,” ujar Edik.

 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Penerjemah Bahasa Isyarat dalam Debat Pilkada DKI, Kerja Total Demi Suara Penyandang Tuna Rungu”, https://megapolitan.kompas.com/read/2017/04/13/11345791/penerjemah.bahasa.isyarat.dalam.debat.pilkada.dki.kerja.total.demi.suara.penyandang.tuna.rungu.
Penulis : Jessi Carina

,

Metrotvnews.com: Sosok Penerjemah Bahasa Isyarat di Debat Pilkada DKI

Sosok Penerjemah Bahasa Isyarat di Debat Pilkada DKI

Di tengah riuhnya pesta rakyat, berbagai upaya dilakukan negara agar pilkada dapat berlaku sama termasuk bagi para mereka yang bisu dan tuli. Amalina Luthfia menemui juru bahasa isyarat yang bertugas menerjemahkan visi misi para kandidat yang tujuannya agar warga disabilitas terbantu dan akhirnya menggunakan hak pilih mereka.

 

Sumber artikel: http://video.metrotvnews.com/360/Rb1lQ1YN-sosok-penerjemah-bahasa-isyarat-di-debat-pilkada-dki
Video 360 | 16 Februari 2017 20:55 WIB

wartakotalive: Sosok Penerjemah Bahasa Isyarat Debat Kandidat

WARTA KOTA, PALMERAH – Pagelaran debat kandidat Pilkada DKI Jakarta penting untuk disimak. KPU DKI sebagai penyelenggara pun menegaskan debat kandidat sebagai ajang guna mengetahui sejauh mana kompetensi Cagub-cawagub DKI dalam mengatasi sejumlah masalah di ibu kota.

Pagelaran debat kandidat yang diadakan sebanyak tiga kali itu diharapkan semua lapisan warga Jakarta dapat menyaksikan langsung di layar televisi.

Namun, bagaimana dengan penyandang tuna rungu yang memiliki hak sama dalam memilih gubernur DKI Jakarta yang menurut mereka adalah terbaik.

Berukuran kotak kecil, letaknya berada di pojok bawah kanan ataupun kiri di layar kaca televisi, untuk sebagian masyarakat yang dapat mendengar ataupun melihat keberadaanya memang tak penting, tapi tidak bagi penyandang tunarungu.

Dalam debat kandidat perdana (13/1) kemarin sosok wanita yang sibuk menggerakan tangan hingga jemarinya dan berada di kotak kecil itu ialah Sasanti T Soegianto.

Wanita kelahiran 1958 ini terlihat indah memainkan tanganya saat debat berlangsung memanas.

Menurutnya melakoni profesi bahasa isyarat sejatinya memiliki fungsi yang sederhana namun vital.

“Ya fungsinya sih sederhana saja bahwa orang tuli juga punya hak untuk mendapatkan informasi, ya kan itu kan bahasa isyarat,” kata Santi (sapaan akrab) ketika dihubungi Warta Kota, di Jakarta, Kamis (19/1/2017).

Santi mulai menggeluti bahasa isyarat sejak tahun 2008 silam. Berawal dari ketertarikanya akan segala ragam bahasa sejak muda, Santi memandang bahasa isyarat dari sisi yang berbeda.

Keindahan gerakan tangan dalam memberikan bahasa isyarat, menjadi dorongan Santi untuk mulai terjun mempelajari bahasa isyarat. Read more

[Ketapels Berdaya] Bikin Pusing, Terlalu Banyak Bahasa Isyarat di Indonesia!

Namanya panjang: Pingkan Carolina Rosalie Warouw. “Cukup panggil saya Pingky,” kata perempuan separuh baya dengan rambut bercat pirang ini. Pingky lahir di Makassar, 30 Juli 1952. Ia menjabat Ketua INASLI atau Indonesian Sign Language Interpreter, sebuah lembaga yang baru berdiri pada 2015 kemarin.

Dalam menerjemahkan bahasa isyarat kepada para tunarungu atau tuli, Pingky sudah sarat pengalaman. Belasan tahun lamanya ia menggeluti sign language. Karena kepandaiannya itu, Pingky sering dipercaya jadi penerjemah pada berbagai acara formal. Termasuk muncul di layar kaca TVRI untuk menerjemahkan informasi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) terkait Pilpres juga Pilkada. Juga, tampil menerjemahkan jalannya rapat anggota legislatif. Sebuah tugas dan kepercayaan yang teramat besar jasanya. Pingky juga tercatat menjadi anggota WASLI atau World Association of Sign Language Interpreters.

“Tidak gampang menjadi penerjemah bahasa isyarat,” ujar Pingky. “Ada banyak prasyarat yang harus melekat pada diri seorang penerjemah. Enggak bisa cuma dari belajar bahasa isyarat saja.”

Pingky lebih suka menyebut kata ‘tuli’ daripada ‘tunarungu’. Berulang kali kata ‘tuli’ ia sebutkan. Termasuk ketika wawancara khusus bersama penulis, usai acara “Komunitas Tunarungu Jumpa Blogger : Sebuah Misi Pemberdayaan” yang digelar KETAPELS (Kompasianer Tangsel Plus) bekerjasama dengan Deaf Café Fingertalk — kafe tunarungu pertama di Indonesia —, pada Minggu, 10 April 2016 di Pamulang Timur, Kota Tangsel.
Berikut kutipan wawancaranya: Read more

Solopos.com: KPI Minta Stasiun TV Sediakan Translator Bahasa Isyarat

Solopos.com, JAKARTA — Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat meminta seluruh stasiun televisi memenuhi hak informasi para penyandang disabilitas tuna rungu, dengan menyediakan translasi bahasa isyarat.

Wakil Ketua KPI, Idy Muzayyad, mengatakan saat ini hanya TVRI yang menyediakan penerjemah bahasa isyarat dalam program acaranya. Padahal, Undang-Undang Penyiaran menyebut penyiaran diselenggarakan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dengan asas manfaat, adil, serta merata.

“Keberadaan bahasa isyarat di stasiun televisi menjadi salah satu implementasi pemenuhan hak informasi secara adil dan merata kepada penyandang disabilitas tuna rungu,” katanya di Jakarta, Selasa (16/2/2016).

Idy menuturkan pemenuhan kebutuhan informasi bagi penyandang disabilitas juga disebutkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) No. 75/2015 tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia.

Perpres itu juga menyebutkan salah satu hak dasar masyarakat adalah hak masyarakat untuk mengakses informasi. Untuk itu, pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha berkewajiban menyediakan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas sesuai dengan haknya.

Menurutnya, televisi yang menggunakan frekuensi publik dalam melakukan siaran memiliki kewajiban untuk memenuhi kepentingan publik, termasuk kepentingan para penyandang disabilitas tuna rungu untuk memperoleh informasi yang benar, seimbang, dan bertanggungjawab.

“Pada 1994, translasi dengan bahasa isyarat bukan hanya di TVRI. Beberapa stasiun televisi swasta juga menyiarkan translasi bahasa isyarat. Saat ini televisi dapat memulai penyediaan translasi bahasa isyarat dengan memilih program tertentu yang memiliki nilai informasi penting bagi penyandang disabilitas tuna rungu,” ujarnya.

Saat ini KPI berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta Kementerian Sosial, agar seluruh stasiun televisi melaksanakan kewajibannya.

Sumber artikel: http://www.solopos.com/2016/02/16/kpi-minta-stasiun-tv-sediakan-translator-bahasa-isyarat-691976
Oleh: Lili Sunardi/JIBI/Bisnis TV Plus | Selasa, 16 Februari 2016 22:45 WIB

Merdeka.com: Debat kedua capres kali ini diterjemahkan pakai bahasa isyarat

Merdeka.com – Ada yang berbeda dalam acara debat capres kedua yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) di stasiun televisi swasta Metro TV kali ini.

Debat capres antara Prabowo Subianto dan Joko Widodo (Jokowi) dengan moderator Ahmad Erani Yustika, kali ini ditampilkan penerjemah dengan bahasa isyarat.

Penerjemah memakai bahasa isyarat itu muncul di pojok kiri layar televisi. Sebelumnya, pada debat pertama di stasiun televisi swasta SCTV, penerjemah bahasa isyarat ini tidak ada.

Penerjemah bahasa isyarat ini penting mengingat banyak rakyat Indonesia yang tuna rungu dan tuna wicara.

Debat kali ini KPU mengangkat topik Pembangunan Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial. Prabowo dan Jokowi akan memaparkan visi-misi yang akan dipakai menyelesaikan masalah sosial yang menyangkut perekonomian Indonesia.

“Selain itu agar mengenal lebih dekat lagi para capres kita dari sisi perekonomian,” kata Ketua KPU Pusat Husni Kamil Manik dalam sambutan acara debat, Minggu (15/6) malam. [mtf]

Sumber artikel: https://www.merdeka.com/peristiwa/debat-kedua-capres-kali-ini-diterjemahkan-pakai-bahasa-isyarat.html
Reporter : Mohamad Taufik | Minggu, 15 Juni 2014 20:16